| SMALLVILE Category: | Movies |
| Genre: | Science Fiction & Fantasy |
Dalam 6 bulan saya sudah menghabiskan nonton Smallvile dari season 1 sampai season 5. Season 6 sudah keluar tetapi masih belum masuk ke indonesia, mungkin kira-kira tahun depan.
Dibandingkan serial lain seperti Buffy the Vampire Slayer, Dawson’s Creek, Heroes, atau lainnya; saya cenderung menyarankan Smallville sebagai serial tontonan remaja yang cukup bagus.
Smallville tak beda dengan Superman masa remaja yang dimodernkan ke masa kini; lengkap dengan ayah, ibu, Lana, Lex, dan tokoh lainnya. Smallville menceritakan kehidupan masa muda Clark Kent ketika beranjak dewasa. Smallville memang bukan Superman, juga bukan Superboy. Sebaliknya, Clark justru sering dibenturkan dengan persoalan aktual yang lebih realistis, seperti pertemanan, cinta remaja, keluarga, konflik, dan hal-hal humanis lainnya.
Berbeda dengan Superman yang lebih mengesankan seperti film hiburan untuk semua umur, banyak adegan-adegan konyol dari lex. Smallville digarap dengan cerita tentang kehidupan seorang manusia super hero secara serius, tidak ada lucu atau adegan konyol.
Dibandingkan nonton Superman dan Superboy atau Cat Woman Batman, entah kenapa kok terasa lebih nyaman nonton SmallVille ya. Mungkin faktor si Clark Kentnya tidak pake celana dalam diluar. :) Mungkin ini juga bisa dijadikan pelajaran untuk film-film lain tentang pentingnya kostum seorang super hero.
Film serial Smallville pernah mendapat kritikan dari penggemar film Superman The Hero, karena cerita smallville yang menjiplak tokoh-tokoh film Superman, dan jalan cerita sama persis dengan Superman. Selain itu jalan cerita Smallville membuat cerita sebenarnya tentang Superman menjadi tidak beraturan. Seperti Clark menemukan benteng sejak masih muda sekali. Meskipun dikatakan Smallville merupakan cerita masa remaja dari Clark sang Superman, namun film Smallville bukanlah film Superman the Hero yang ada di layar lebar. Smallville adalah Smallville, superman adalah Superman.
Ide Superman muda memang bukan hal baru. Kalau Anda ingat, di komik-komik perdananya pernah diperkenalkan “The Adventures of Superman When He Was A Boy!” Namun tidak benar-benar mirip dengan Smallville. Clark yang sekarang tak lagi culun dan berkacamata tebal. Ia sudah mengenal komputer dan internet, menggemari Nirvana, dan update dengan perkembangan jaman.
Ada beberapa hal yang menarik di sini. Misalnya, di Smallville kita bisa belajar soal peran orangtua dalam mengarahkan anaknya. Great parents who taught right from wrong. Clark sadar di usia yang masih labil dirinya punya kekuatan hebat dan menghadapi kebingungan untuk memilih antara being good or evil. Tanpa Jonathan dan Martha yang mengajarkan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran, Clark bisa jadi sama bejatnya dengan Lex dan menggunakan kekuatannya untuk hal yang negatif.
Yang juga menarik untuk disimak, siapa sangka kalau di masa mudanya ternyata Clark dan Lex adalah teman dekat. Saya jadi teringat bersabda Rasulullah agar kita seyogyanya jangan terlalu suka atau terlalu benci terhadap orang lain secara kebablasan. Bisa jadi orang yang kita benci suatu saat jadi teman kita, atau sebaliknya orang yang kita sukai justru berubah jadi musuh kita.
Dan yang juga tak bisa kita abaikan adalah kerendahan hati Clark yang tulus. Ketika beraksi melawan bad guy, sedapat mungkin ia berusaha agar tak terlihat orang lain. Clark bahkan menanggalkan kostum merah-biru yang khas itu. Ia bisa menyembunyikan kekuatan besarnya dengan penampilan dan sikap yang biasa-biasa saja. Clark bahkan menolak membeberkan soal kekuatannya ke Lana — yang musti dibayar dengan hubungan mereka yang kemudian merenggang.
Rasa keingintahuan Lex terhadap rahasia-rahasia Clark membuat Lex menajdi buta tentang persahabatan mereka, sehingga apapun dilakukan untuk mengungkap pribadi Clark sampai rahasia besar tentang Clark. Ternyata persahabatan bagi beberapa orang mempunyai maksud dan tujuan sendiri. Hal ini juga menjadi salah satu tujuan positif yang ingin disampaikan oleh film Smallville.
Harus diakui bahwa tiap orang punya kelebihan yang unik dan spesifik; yang cenderung mendorong mereka untuk merasa sombong dan pamer kepada orang lain. Manajer cenderung menekan dan tak mau tahu pada bawahannya. Dosen by it’s nature selalu merasa lebih pandai dari mahasiswanya. Pejabat cenderung merasa berkuasa terhadap rakyat yang dipimpinnya. Dan bahkan kita sendiri tak sadar sering merasa tinggi hati ke orang di sekitar kita yang pencapaiannya belum sebaik kita.
Memang tak ada yang salah dengan menjadi orang yang cerdas, memegang kekuasaan, dan punya segudang kelebihan. Tak ada yang salah dengan menjadi hebat. Tak ada yang salah dengan menjadi Superman. Clark sebenarnya bisa menunjukkan kekuatannya ke setiap orang, namun tak dilakukannya. Ia bisa saja membual tentang kebolehannya ke siapa pun, tapi ia memilih tutup mulut.
Harusnya kita bisa belajar dari sosok imajiner Clark Kent. Kita bisa marah, tapi lebih memilih untuk cooling down. Kita bisa menginjak bawahan kita, tapi memilih jalan persuasif yang lebih manusiawi. Kita juga bisa saja sombong dan pamer, tapi lebih suka menjadi sederhana dan apa adanya. Itulah kerendahan hati.
Jujur saja, penulis cerita ini mungkin bukan orang timur atau seorang muslim, tapi sungguh, nilai-nilai dan sifat-sifat dari setiap tokoh dalam serial ini kental dengan adab ketimuran dan nilai islami yang unggul. Sayangnya, yang di sini malah membuat cerita yang tak sesuai dengan budaya dan agamanya sendiri.
Dibandingkan serial lain seperti Buffy the Vampire Slayer, Dawson’s Creek, Heroes, atau lainnya; saya cenderung menyarankan Smallville sebagai serial tontonan remaja yang cukup bagus.
Smallville tak beda dengan Superman masa remaja yang dimodernkan ke masa kini; lengkap dengan ayah, ibu, Lana, Lex, dan tokoh lainnya. Smallville menceritakan kehidupan masa muda Clark Kent ketika beranjak dewasa. Smallville memang bukan Superman, juga bukan Superboy. Sebaliknya, Clark justru sering dibenturkan dengan persoalan aktual yang lebih realistis, seperti pertemanan, cinta remaja, keluarga, konflik, dan hal-hal humanis lainnya.
Berbeda dengan Superman yang lebih mengesankan seperti film hiburan untuk semua umur, banyak adegan-adegan konyol dari lex. Smallville digarap dengan cerita tentang kehidupan seorang manusia super hero secara serius, tidak ada lucu atau adegan konyol.
Dibandingkan nonton Superman dan Superboy atau Cat Woman Batman, entah kenapa kok terasa lebih nyaman nonton SmallVille ya. Mungkin faktor si Clark Kentnya tidak pake celana dalam diluar. :) Mungkin ini juga bisa dijadikan pelajaran untuk film-film lain tentang pentingnya kostum seorang super hero.
Film serial Smallville pernah mendapat kritikan dari penggemar film Superman The Hero, karena cerita smallville yang menjiplak tokoh-tokoh film Superman, dan jalan cerita sama persis dengan Superman. Selain itu jalan cerita Smallville membuat cerita sebenarnya tentang Superman menjadi tidak beraturan. Seperti Clark menemukan benteng sejak masih muda sekali. Meskipun dikatakan Smallville merupakan cerita masa remaja dari Clark sang Superman, namun film Smallville bukanlah film Superman the Hero yang ada di layar lebar. Smallville adalah Smallville, superman adalah Superman.
Ide Superman muda memang bukan hal baru. Kalau Anda ingat, di komik-komik perdananya pernah diperkenalkan “The Adventures of Superman When He Was A Boy!” Namun tidak benar-benar mirip dengan Smallville. Clark yang sekarang tak lagi culun dan berkacamata tebal. Ia sudah mengenal komputer dan internet, menggemari Nirvana, dan update dengan perkembangan jaman.
Ada beberapa hal yang menarik di sini. Misalnya, di Smallville kita bisa belajar soal peran orangtua dalam mengarahkan anaknya. Great parents who taught right from wrong. Clark sadar di usia yang masih labil dirinya punya kekuatan hebat dan menghadapi kebingungan untuk memilih antara being good or evil. Tanpa Jonathan dan Martha yang mengajarkan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran, Clark bisa jadi sama bejatnya dengan Lex dan menggunakan kekuatannya untuk hal yang negatif.
Yang juga menarik untuk disimak, siapa sangka kalau di masa mudanya ternyata Clark dan Lex adalah teman dekat. Saya jadi teringat bersabda Rasulullah agar kita seyogyanya jangan terlalu suka atau terlalu benci terhadap orang lain secara kebablasan. Bisa jadi orang yang kita benci suatu saat jadi teman kita, atau sebaliknya orang yang kita sukai justru berubah jadi musuh kita.
Dan yang juga tak bisa kita abaikan adalah kerendahan hati Clark yang tulus. Ketika beraksi melawan bad guy, sedapat mungkin ia berusaha agar tak terlihat orang lain. Clark bahkan menanggalkan kostum merah-biru yang khas itu. Ia bisa menyembunyikan kekuatan besarnya dengan penampilan dan sikap yang biasa-biasa saja. Clark bahkan menolak membeberkan soal kekuatannya ke Lana — yang musti dibayar dengan hubungan mereka yang kemudian merenggang.
Rasa keingintahuan Lex terhadap rahasia-rahasia Clark membuat Lex menajdi buta tentang persahabatan mereka, sehingga apapun dilakukan untuk mengungkap pribadi Clark sampai rahasia besar tentang Clark. Ternyata persahabatan bagi beberapa orang mempunyai maksud dan tujuan sendiri. Hal ini juga menjadi salah satu tujuan positif yang ingin disampaikan oleh film Smallville.
Harus diakui bahwa tiap orang punya kelebihan yang unik dan spesifik; yang cenderung mendorong mereka untuk merasa sombong dan pamer kepada orang lain. Manajer cenderung menekan dan tak mau tahu pada bawahannya. Dosen by it’s nature selalu merasa lebih pandai dari mahasiswanya. Pejabat cenderung merasa berkuasa terhadap rakyat yang dipimpinnya. Dan bahkan kita sendiri tak sadar sering merasa tinggi hati ke orang di sekitar kita yang pencapaiannya belum sebaik kita.
Memang tak ada yang salah dengan menjadi orang yang cerdas, memegang kekuasaan, dan punya segudang kelebihan. Tak ada yang salah dengan menjadi hebat. Tak ada yang salah dengan menjadi Superman. Clark sebenarnya bisa menunjukkan kekuatannya ke setiap orang, namun tak dilakukannya. Ia bisa saja membual tentang kebolehannya ke siapa pun, tapi ia memilih tutup mulut.
Harusnya kita bisa belajar dari sosok imajiner Clark Kent. Kita bisa marah, tapi lebih memilih untuk cooling down. Kita bisa menginjak bawahan kita, tapi memilih jalan persuasif yang lebih manusiawi. Kita juga bisa saja sombong dan pamer, tapi lebih suka menjadi sederhana dan apa adanya. Itulah kerendahan hati.
Jujur saja, penulis cerita ini mungkin bukan orang timur atau seorang muslim, tapi sungguh, nilai-nilai dan sifat-sifat dari setiap tokoh dalam serial ini kental dengan adab ketimuran dan nilai islami yang unggul. Sayangnya, yang di sini malah membuat cerita yang tak sesuai dengan budaya dan agamanya sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar